Yamato Damashii XIX (2026): Dua Hari Festival Jejepangan di STBA Yapari ABA, Bareng Saturday Kensou hingga Henohenomoheji
Setelah absen di 2025, Penulis kembali ke Yamato Damashii โ festival jejepangan tahunan HIMADE STBA Yapari ABA Bandung yang kini memasuki edisi ke-19 dan berkolaborasi perdana dengan Anime Indonesia Festival.

Alasan Penulis datang ke Yamato Damashii XIX sederhana saja: hampir semua teman tampil di sini.
Bukan berarti edisinya tidak menarik. Tapi jujur, itu yang jadi dorongan utamanya. Yamato Damashii XIX โ kolaborasi perdana dengan Anime Indonesia Festival โ berlangsung 13 hingga 14 Juni 2026 di STBA Yapari ABA, Jalan Cihampelas No. 194, Bandung. Dan setelah absen di 2025 (dan hanya sebentar di 2024), Penulis akhirnya kembali penuh dua hari.
Festival yang Sudah Berjalan Hampir Dua Dekade
Bagi yang belum kenal, Yamato Damashii adalah festival jejepangan tahunan yang diselenggarakan oleh HIMADE (Himpunan Mahasiswa Bahasa Jepang) STBA Yapari ABA Bandung. Selama lebih dari dua dekade, acara ini telah menjadi salah satu festival budaya Jepang kampus tertua dan paling konsisten di Bandung, menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari cosplay, cover dance, cover sing, pertunjukan musik Jepang, hingga berbagai kompetisi dan pameran budaya.
Meski nama Yamato Damashii baru digunakan sejak 2006 melalui event Yamato Damashi Bunkasai, sejarahnya sebenarnya dimulai setahun lebih awal. Pada 7โ8 Mei 2005, HIMADE STBA Yapari ABA menggelar Nihon no Tanoshimimashou, sebuah festival bertema Jepang yang kini dianggap sebagai cikal bakal lahirnya Yamato Damashii. Karena itu, tradisi festival jejepangan di kampus yang berlokasi di Jalan Cihampelas ini sebenarnya telah berjalan selama lebih dari 20 tahun.
Tahun 2008 hadir Kuro Shiro (Hitam Putih), tema pertama yang tercatat dalam sejarah acara. Setahun kemudian, Yamato Damashii IV pada 2009 menjadi salah satu edisi awal yang memiliki dokumentasi foto dan video paling lengkap. Tahun 2010 menghadirkan tema Tua Muda Merah Putih, sebuah pendekatan yang cukup unik karena menggabungkan semangat budaya Jepang dengan nuansa nasionalisme Indonesia.
Memasuki dekade 2010-an, Yamato Damashii semakin matang. Edisi 2011 mengangkat tema Fuurin Matsuri yang terinspirasi festival lonceng angin khas musim panas Jepang, disusul Take Matsuri pada 2012 yang mengambil simbol bambu sebagai identitas acara. Pada 2013 lahir salah satu tema paling ikonik dalam sejarah festival ini, Yatagaruda Matsuri, yang menggabungkan sosok mitologis Jepang Yatagarasu dengan Garuda sebagai lambang Indonesia, mencerminkan pertemuan dua budaya dalam satu festival.
Periode 2014โ2016 menjadi masa transisi menuju skala yang lebih besar. Umi no Matsuri (Festival Laut) hadir pada 2014, disusul Kin no Matsuri pada 2015 yang menandai edisi ke-10 sekaligus menghadirkan performer-performer yang kemudian menjadi langganan event jejepangan Bandung seperti Lumina Scarlet, Henohenomoheji, dan Thousand Sunny. Tahun berikutnya, Yamato Damashii XI kembali digelar pada 7โ8 Agustus 2016 di kampus STBA Yapari ABA Bandung. Meski tema resminya belum berhasil ditemukan dalam dokumentasi yang tersedia saat ini, penyelenggaraan edisi ke-11 tersebut menunjukkan bahwa Yamato Damashii telah memasuki fase yang lebih matang dan konsisten, menjadi salah satu festival jejepangan kampus yang terus bertahan di tengah pesatnya perkembangan komunitas anime, cosplay, dan budaya Jepang di Bandung.
Puncak perkembangan Yamato Damashii terjadi pada periode 2017โ2019. Tahun 2017 melalui Shiki no Matsuri, festival ini untuk pertama kalinya berlangsung selama tiga hari penuh. Format tersebut berlanjut pada 2018 dan mencapai puncaknya pada Kakumei no Daimon tahun 2019, yang menjadi edisi terakhir sebelum pandemi COVID-19 menghentikan sementara penyelenggaraan berbagai festival budaya Jepang di Indonesia.
Setelah pandemi, Yamato Damashii perlahan kembali menemukan momentumnya. Edisi XV bertajuk Sense of Mirai pada 2021 menjadi simbol harapan akan masa depan komunitas jejepangan yang sempat terhenti akibat pembatasan sosial. Kebangkitan tersebut berlanjut melalui Yamato Damashii XVI bertema Aratana Jinsei o Hiraku pada 2023 dan Yamato Damashii XVII Eien no Sakura Saki pada 2024.
Tahun 2025 menjadi babak penting berikutnya melalui penyelenggaraan Yamato Damashii XVIII yang berlangsung pada 10โ11 Mei 2025 di kampus STBA Yapari ABA Bandung. Acara ini menghadirkan berbagai kompetisi akademik seperti Shuuji Contest, Kana Contest, Kanji Contest, Rodoku Contest, dan Design Character, serta kompetisi non-akademik seperti Cover Song, Cover Dance, dan Cosplay Competition. Edisi ini sekaligus menjadi cerminan tantangan baru yang dihadapi event jejepangan kampus di era modern, mulai dari perubahan perilaku komunitas, pergeseran generasi penggemar anime dan budaya Jepang, hingga semakin ketatnya persaingan dengan event gratis yang banyak diselenggarakan di pusat perbelanjaan dan ruang publik.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut menuju Yamato Damashii XIX pada 2026, sebuah edisi bersejarah yang menghadirkan kolaborasi resmi dengan Anime Indonesia Festival. Untuk pertama kalinya, dua komunitas besar bertemu dalam satu acara, menandai fase baru perjalanan Yamato Damashii setelah lebih dari dua puluh tahun berkembang dari sebuah festival kampus menjadi salah satu ikon event jejepangan Bandung.
Edisi XIX ini menjadi istimewa karena satu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya: kolaborasi resmi dengan Anime Indonesia Festival (AIF). Dua komunitas berbeda, satu panggung, dua hari penuh perayaan budaya Jepang di Bandung. Kolaborasi ini menjadi tonggak baru dalam sejarah Yamato Damashii sekaligus menunjukkan bagaimana festival yang lahir dari lingkungan kampus mampu terus berkembang dan beradaptasi mengikuti perubahan zaman.
Penulis sendiri sudah mengenal Yamato Damashii sejak era 2008-an, ketika festival jejepangan Bandung masih didominasi acara-acara komunitas dan kampus. Bahkan Penulis sempat meliput acara ini pada Yamato Damashii XIV tahun 2019, edisi terakhir sebelum pandemi menghentikan segalanya. Tujuh tahun kemudian, Penulis kembali ke kawasan Cihampelas untuk melihat bagaimana festival ini tumbuh, berubah, dan tetap mempertahankan semangat yang sama: menjadi ruang berkumpulnya pecinta budaya Jepang, anime, manga, cosplay, musik Jepang, dan komunitas jejepangan Bandung lintas generasi.
Hari Pertama: Lomba, Stand, dan Dua MC

Day 1 jatuh bersamaan dengan Etanaru Party โ event jejepangan lain di hari yang sama yang bertempat di Selah Hall, Piset Square. Tidak sedikit yang akhirnya harus memilih. Penulis memilih Yamato Damashii.
Pagi hari, venue masih dalam proses berbenah. Dua stand sudah siap sejak awal: LPK SOU dan stand makanan. Penonton sedang menonton lomba pidato Bahasa Jepang, bangku sudah terisi, dua MC naik masih memandu rangkaian acara.
Pukul 10.15, lomba Cover Dance Solo & Duo dimulai. Satu nama langsung mencuri perhatian Penulis: Annas, anggota Naira, yang ikut bertarung sebagai peserta individual di kategori ini. Menarik melihat seseorang yang biasa tampil sebagai bagian grup kini berdiri sendiri di atas panggung.
Setelah Zuhur, giliran Cover Sing. Pilihan lagu para peserta banyak yang menengok ke belakang โ Good Bye Days dari YUI, Kokoro no Tomo dari Mayumi Itsuwa. Salah satu yang paling berkesan adalah Levanji (salah satu Anggota Voir), yang membawakan Takane no Hanako-san dari Back Numbers.

Lomba Cover Dance Group menyusul setelahnya. Satu catatan kecil: saat sesi ini berlangsung, salah satu dari dua MC harus menangani acara sendirian. Tidak ada masalah fatal, tapi ada perbedaan energi yang terasa.

Hari pertama ditutup dengan pengumuman pemenang lomba-lomba pendidikan: Kanji, Sakubun, Shuuji, Speech, Rodoku, Desain Karakter, hingga Kana. Rangkaian yang panjang, tapi perlu โ ini bagian inti dari identitas Yamato Damashii sebagai event akademik sekaligus hiburan.
Hari Kedua: Dari Magnifichor Sampai Ai Scream
Penulis berangkat pukul 09.30, tiba di venue pukul 10.00, dan acara baru benar-benar dimulai sekitar setengah jam kemudian.
Pembuka: Magnifichor dan Gentra Seba
Pembuka Day 2 adalah Magnifichor โ grup paduan suara yang langsung mengeset suasana berbeda dari hari sebelumnya. Pilihan lagunya menarik: Suzume yang dinyanyikan Toaka dari film Suzume no Tojimari. Pilihan yang relevan, tidak terlalu aman.
Yang bikin Penulis tersenyum: salah satu MC cewek dari hari sebelumnya ternyata tampil juga di Magnifichor โ dan belakangan juga muncul di D.O.S dan Sakura Odori. Satu orang, tiga konteks penampilan yang berbeda dalam dua hari.
Setelah Magnifichor, Gentra Seba tampil membawa nuansa berbeda dengan instrumen tradisional, disusul D.O.S โ cover dance dari STBA Yapari ABA. Showcase pemenang Cover Dance dan Cover Sing dari hari pertama juga masuk di blok pembuka ini, termasuk Annas yang tampil ulang sebagai pemenang Cover Dance Solo.
Sakura Odori
Unit cover dance HIMADE, Sakura Odori, tampil dengan dua lagu. Pertama, Kingyo Hanabi dari Ai Otsuka โ lagu yang tetap terasa segar meski usianya sudah dua dekade. Lagu kedua, Rinrin - Fuhen, baru Penulis sadari belakangan sebagai ending song anime Samurai 7. Pilihan yang tidak generik.
Penulis sempat keluar terlebih dahulu untuk makan siang di Mie Baso Pangsit Pak Heri.

Selingan: Big Band

Big Band tampil setelah Sakura Odori dengan pilihan repertoar yang agak di luar dugaan: Chiisana Koi no Uta dan Anata Ni dari Mongol800. Band Okinawa itu memang punya jejak panjang di komunitas musik Jepang Indonesia, dan melihatnya dibawakan oleh formasi big band memberi warna tersendiri.
Saturday Kensou

Kalau ada satu penampilan Day 2 yang paling berkesan secara visual dan auditif, Penulis akan tunjuk Saturday Kensou. Mereka juga tampil di Tribute to L'Arc-en-Ciel 35th Anniversary kemarin.
Tiga lagu, semuanya dari L'Arc-en-Ciel: Bless Your Breath, Stay Away, dan Link (Opening Song dari Fullmetal Alchemist The Movie). Full setlist Laruku. Smoke machine aktif, lighting biru memenuhi panggung, dan band ini tampil seperti mereka memang lahir untuk membawakan repertoar itu.
Bagi yang besar dengan L'Arc-en-Ciel di era 2000-an โ penampilan ini adalah comfort zone dalam format yang sangat menyenangkan.
Lumina Scarlet
Lumina Scarlet sudah tampil di Yamato Damashii sejak edisi X tahun 2015 โ sebelas tahun lalu. Fakta itu sendiri cukup menjadi penanda seberapa konsisten kehadiran mereka di festival ini hingga anggota Lumina Scarlet yang sudah Generasi 10, yaitu Rae (Leader), Chiwa, sama Love, dan Generasi 11, yaitu Gen dan Nei, menjadi Special Performance.
Tiga lagu tampil: Ikuze! Kaitou Shoujo dari Momoiro Clover Z, dilanjut dua lagu orisinal โ Kamu atau Dia dan Scarlet Melody. Kombinasi cover dan original yang sudah jadi formula mereka.
Selingan: Stand Varo
Saat jeda, Penulis mampir ke booth Varo yang hadir sebagai community partner.

Tersedia sesi main Tekken untuk pengunjung. Beberapa orang terlihat antusias. Sebuah pengingat bahwa Yamato Damashii bukan hanya tentang panggung โ ada ruang untuk komunitas di sela-selanya juga.
Thousand Sunny

Thousand Sunny membuka dengan Odoru Ponkoporin โ lagu opening Chibi Maruko-chan yang entah kenapa selalu berhasil menciptakan suasana menyenangkan di manapun dimainkan. Lagu kedua adalah Sakuranbo dari Ai Otsuka.
Lagu terakhir mereka adalah momen kolaborasi: duet bersama vokalis SamSite โ sebuah chemistry yang rupanya sudah pernah dibangun saat Thousand Sunny tampil di Sashimi sebelumnya. Hasilnya terasa natural, bukan sekadar tempel.


Harvest dan Naira
Setelah sempat keluar sebentar, Penulis kembali dan mendapati Harvest sedang tampil. Salah satu lagunya adalah Takane no Hanako-san dari Back Numbers โ lagu yang di hari sebelumnya juga dibawakan Levanji dalam lomba Cover Sing. Satu lagu, dua konteks dalam dua hari yang berbeda.
Naira, yang beranggotakan Annas, Rere, dan Irene, tampil dengan kostum anime yang langsung membedakan visual mereka dari siapapun yang tampil sebelumnya. Lima lagu dibawakan malam itu: Tachiagare dari Wake Up Girls sebagai pembuka, dilanjut dua lagu orisinal โ Metamorfosis dan Renaissance โ kemudian Ignite dari Necopla, dan ditutup dengan medley anime song yang berakhir di Zankoku no Tenshi no Thesis dari Neon Genesis Evangelion.
Menutup medley dengan Zankoku hampir tidak pernah salah.
Henohenomoheji: Closing Act

Dan tibalah ke closing act: Henohenomoheji.
Empat lagu. Lagu pertama yang dibawakan adalah Yoasobi - Shukufuku. Lagu kedua adalah Tragedi Domestik โ lagu orisinal yang menjadi salah satu momen paling kuat malam itu. Lagu ketiga adalah ReoNa - Nai Nai. Lagu keempat adalah Hiroyuki Sawano ft. Aimer - StarRing Child. Setelah 4 lagu tersebut, mereka menutup Yamato Damashii XIX dengan Ai Scream.
Hal yang menarik: vokalis diberikan kerupuk di atas panggung saat tampil oleh panitia โ tradisi yang rupanya sudah berjalan sejak tahun lalu.

Setelah Ai Scream, selesai. Yamato Damashii XIX resmi ditutup.
Penulis keluar dari venue sekitar pukul 20.30 dengan kepala masih penuh setlist dan wajah-wajah teman yang satu per satu muncul di panggung selama dua hari itu.
Penutup
Yamato Damashii XIX tidak mencoba terlalu keras untuk jadi berbeda. Ia hadir dengan format yang sudah teruji hampir dua dekade โ lomba, cover, band, idol group โ dan mengeksekusinya dengan cukup rapi.
Yang membedakan edisi ini dari sebelumnya adalah dua hal: kolaborasi perdana dengan Anime Indonesia Festival, dan kepadatan performer yang berhasil membuat dua hari terasa penuh tanpa berlebihan. Dari Magnifichor di pagi hari sampai Ai Scream di malam hari, ada ritme yang terjaga.
Sampai jumpa lagi, Mamangreviewers. Ikuti juga Instagram MamangReview