Rumah Bakmi & Soto Cicendo: Mie Godog Kuah Kental yang Bikin Penulis Nyesel Baru Coba Sekarang
Penulis mampir ke warung bakmi Jawa yang sudah 12 tahun berjualan di Jalan Dakota, Cicendo, dan Mie Godog kuah kentalnya ternyata sepadan sama umur warungnya.

Sudah bertahun-tahun Penulis tidak singgah di Jalan Dakota, Cicendo, dan baru pada Ahad, 9 Agustus 2026 kemarin mencoba mampir ke Rumah Bakmi & Soto yang plangnya sebenarnya sudah lama akrab di mata. Alasannya sederhana: lapar di jam makan siang dan malas muter-muter cari tempat lain. Begitu duduk dan baca-baca menu, Penulis baru sadar warung ini sudah berjualan sejak 2014 โ artinya sudah 12 tahun eksis di jalur yang sama tanpa pernah benar-benar Penulis sambangi. Rencana awal sebenarnya mau coba pesan Garang Asem sesuai rekomendasi yang sempat didengar dari beberapa orang, tapi begitu menu terbuka, tangan malah reflek menunjuk Mie Godog. Bukan penyesalan, tapi jelas jadi PR yang harus dituntaskan lain kali.

Warung Sederhana yang Bertahan Belasan Tahun
Rumah Bakmi & Soto berlokasi persis di Jalan Dakota, yang juga tembus ke Jalan Sukaraja II No. 28, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Bagian depannya berupa konter pemesanan yang terbuka langsung ke jalan โ plang merahnya bertuliskan "Rumah Bakmi Jawa", dilengkapi banner tambahan "Soto Bengkuk & Garang Asem", plus papan kecil dekat pintu masuk yang mempromosikan "Bakmi & Nasi Goreng". Tiga identitas berbeda nempel di satu warung yang sama โ awalnya bikin Penulis penasaran mana yang benar-benar jadi andalan, sampai akhirnya paham kalau semua menu itu memang benar-benar dijual bersamaan dari satu dapur yang sama.

Tapi begitu masuk lebih ke dalam, ruang makannya ternyata bukan lapak kaki lima yang nempel ke trotoar seperti dugaan awal Penulis โ ini aula tertutup dengan dinding penuh dan jendela kaca di sekelilingnya, jadi suara dan asap knalpot dari Jalan Dakota nggak langsung masuk ke meja makan. Lantainya keramik motif kotak-kotak hijau-putih, meja-mejanya bertop hijau dan cokelat tua, masing-masing dilengkapi keranjang plastik berisi sendok dan garpu โ pemandangan yang pasti familiar buat Mamangreviewers yang sering wisata kuliner warung kampung.

Mie Godog: Kuah Kental, Telor Bebek, dan Sentuhan Arang
Di daftar menu, namanya tertulis Bakmi Godok, dibanderol Rp22.000. Begitu mangkuk sampai di meja, hal pertama yang menarik perhatian adalah kuahnya: kental, warnanya cokelat muda keemasan, dari campuran telor bebek yang menyatu ke dalam kuahnya, bikin teksturnya terasa lebih "berisi" dibanding kuah bening biasa.
Ayam suwirnya juga jadi nilai plus tersendiri: potongannya tidak pelit, empuk, dan bumbunya meresap sampai ke serat-seratnya, bukan cuma taburan seadanya di permukaan. Ditambah bawang goreng yang masih renyah dan sedikit sayuran hijau sebagai penyeimbang, satu mangkuk ini habis tak bersisa โ sampai ke pinggir-pinggir mangkuknya pun disendoki bersih, tanda kuahnya sayang untuk dibuang begitu saja.
Satu hal yang bikin Mie Godog di sini beda dari kebanyakan tempat lain: dimasak pakai arang, bukan kompor gas. Teknik masak seperti ini umumnya menghasilkan aroma smoky yang lebih dalam dibanding masakan berbahan bakar gas biasa, dan hal itu memang kerasa begitu kuahnya sampai ke mulut โ ada semacam kedalaman rasa yang bikin Penulis paham kenapa warung ini bisa konsisten berjualan lebih dari satu dekade tanpa banyak berubah.
Ditemani es teh manis (Rp7.000) sebagai pelengkap, total pengeluaran Penulis untuk satu porsi lengkap berada di kisaran Rp29.000 โ angka yang masih ramah di kantong untuk kualitas rasa sekelas ini.
Menu Lain dan Kisaran Harga

Selain Bakmi Godok, Rumah Bakmi & Soto punya daftar menu yang cukup panjang untuk ukuran warung kaki lima. Kategori bakmi dan kwetiau saja punya empat varian: godok, goreng, nyemek, dan ati ampela, dengan harga mulai Rp20.000 sampai Rp27.000 tergantung jenis dan tambahan ati ampelanya. Buat Mamangreviewers yang lebih suka nasi goreng, tersedia enam pilihan, mulai dari nasi goreng biasa (Rp17.000) sampai nasi goreng spesial (Rp27.000).
Yang justru jadi rekomendasi orang-orang dan belum sempat Penulis coba adalah Garang Asem โ tersedia versi ayam dan daging, masing-masing dibanderol Rp25.000. Menu ini disandingkan dengan Soto Bengkuk yang juga jadi andalan warung, mengingat namanya sampai dipajang besar-besar di banner depan sejajar dengan nama utama warung. Karena belum dicoba langsung, Penulis belum berani kasih penilaian soal dua menu ini, tapi kehadirannya di banner depan jadi alasan kuat untuk balik lagi.
Untuk pelengkap, ada perkedel, keripik tempe, tempe bacem, tahu bacem, kerupuk, emping, dan telor dadar, semuanya di rentang harga Rp3.000โRp5.000. Pilihan minuman juga cukup lengkap: es teh manis Rp7.000, es jeruk dan es susu Rp8.000, sampai aneka jus Rp10.000 untuk versi dingin. Kalau mau yang panas, kopi hitam jadi pilihan termurah di Rp5.000. Warung ini juga menerima pesanan dan katering, dengan nomor kontak yang tertera jelas di menu bagi yang mau pesan dalam jumlah banyak.
Yang Perlu Mamangreviewers Tahu Sebelum ke Sini
Satu catatan jujur dari Penulis: meski konter depannya terbuka ke jalan, ruang makan utamanya sebenarnya tertutup dinding dan cukup teduh โ jadi buat Mamangreviewers yang mengira bakal makan sambil kena angin dan bising Jalan Dakota, itu keliru. Yang justru perlu disiapkan adalah soal suhu ruangan: sirkulasi udaranya cuma mengandalkan satu kipas angin dinding, tanpa AC, jadi begitu warung ramai pas jam makan siang, ruangannya bisa terasa lumayan gerah. Dindingnya juga polos apa adanya dan terlihat sudah berumur โ bukan tempat yang didesain buat foto-foto, tapi cukup nyaman untuk duduk santai menghabiskan semangkuk mie.
Satu catatan lain: karena kunjungan kali ini fokus ke Mie Godog, Penulis belum bisa cerita banyak soal Garang Asem atau Soto Bengkuk yang justru jadi identitas utama warung ini di banner depan. Jadi anggap saja tulisan ini baru separuh cerita dari apa yang ditawarkan Rumah Bakmi & Soto.
Kesimpulan: Worth Dicoba?
Dari satu mangkuk Mie Godog saja, Penulis sudah cukup yakin Rumah Bakmi & Soto layak masuk daftar kuliner Cicendo yang jangan sampai cuma dilewatkan begitu saja saban hari. Kuah kental dengan telor bebek, ditambah teknik masak pakai arang, jadi pembeda yang cukup nyata dibanding warung bakmi godog lain di Bandung yang pernah Penulis coba. Harganya juga masih masuk akal, sesuai standar warung kaki lima pada umumnya, jauh dari kata mahal untuk ukuran porsi dan rasa yang didapat.
Buat Mamangreviewers yang kebetulan lewat Jalan Dakota atau area Sukaraja, Cicendo, dan sedang cari mie godog dengan karakter rasa yang beda dari kebanyakan, warung ini pantas masuk daftar coba. Penulis sendiri sudah niat balik lagi โ kali ini benar-benar akan pesan Garang Asem, sesuai rekomendasi yang sempat terlewat di kunjungan pertama.