2018 (September): dari Sunrise di Villa Deri sampai Gerbang Taman Langit Gunung Banyak
Trip yang sudah dijanjikan di artikel sebelumnya sebagai salah satu yang paling menyenangkan โ pagi penuh warna di Villa Deri kawasan Batu, lanjut masuk gerbang Taman Langit Gunung Banyak, sampai pulang bawa dua kotak Malang Strudel sekaligus.
Di artikel sebelumnya, Penulis sempat menjanjikan bahwa trip bulan September 2018 ini bakal jadi salah satu yang paling menyenangkan sepanjang hubungan Penulis dengan Malang โ dan ternyata benar. Kali ini rombongan lebih ramai dari biasanya, menginap di sebuah villa di kawasan perbukitan Batu, dengan jadwal yang jauh lebih longgar dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Dua hari terakhir trip inilah yang paling layak diceritakan ulang: perburuan mie yang gagal dua kali, satu malam penuh tawa di villa, sampai akhirnya berdiri di gerbang Taman Langit, Gunung Banyak.
Mie yang Gagal Dua Kali dan Malam Pertama di Villa Deri
Hari pertama di villa dimulai dengan niat sederhana: sarapan di luar. Penulis coba jalan kaki ke sebuah warung bernama Hot Cui Mie sekitar jam 9 pagi, tapi ternyata belum buka โ padahal di Google Maps sudah tertulis buka. Daripada pulang tangan kosong, Penulis mampir dulu ke Yogya Express, beli potato bee seharga Rp9.200 sebagai pengganjal sementara.
Sejam kemudian, Penulis balik lagi ke Hot Cui Mie dan kali ini benar-benar buka. Pesan hot cui mie ayam plus teh manis, totalnya Rp28.000. Mie-nya disajikan dengan kuah dan bumbu yang gurih, cukup untuk mengobati rasa penasaran setelah gagal di percobaan pertama โ bukti kecil bahwa jam buka warung di Google Maps tidak selalu bisa dipegang mentah-mentah, terutama di area yang belum terlalu Penulis kenal.
Sore harinya, rombongan sempat lewat Museum Angkut di kawasan Batu โ tempat yang sama dengan trip 2017 โ tapi kali ini cuma singgah di depannya saja, tidak sampai masuk, karena waktu yang terbatas. Begitu matahari mulai turun, rombongan naik motor menuju penginapan dan sampai di Villa Deri sekitar jam setengah enam sore. Malam itu diisi dengan belanja bahan masak ke Indomaret terdekat (termasuk beberapa bungkus mie instan buat stok), masak tempe bareng-bareng, lalu makan malam nasi goreng dan omelette mie sambil main kartu โ seven dan remi jawa โ rame-rame di ruang tengah villa sampai larut.
Sunrise dari Villa dan Sarapan yang Riuh
Paginya, Penulis bangun jauh lebih awal dari jadwal โ alarm jam 3 pagi sempat tidak berbunyi karena entah siapa yang mematikannya duluan, dan baru benar-benar terbangun jam 4 lewat. Setelah subuh, rombongan kecil keluar villa sekitar jam 5 pagi untuk berburu sunrise. Penulis sampai lupa membawa kamera sendiri karena tasnya masih tertinggal di kamar, jadi terpaksa pinjam kamera teman.
Momen ini yang paling berkesan dari pagi itu: langit berubah merah lalu perlahan biru, dengan lampu-lampu kota masih menyala di kejauhan. Salah satu teman menjelaskan bahwa kota yang terlihat dari villa itu sebenarnya Kota Batu, sementara Kota Malang sendiri tersembunyi di balik bukit โ detail kecil yang baru Penulis sadari meski sudah beberapa kali ke daerah ini. Sambil menikmati pemandangan, Penulis memutar lagu "Fuyubiyori" dari HP, menambah suasana pagi yang tenang sebelum villa kembali ramai.
Begitu matahari sudah sepenuhnya naik, rombongan kembali ke villa. Sempat ada insiden basah-basahan dadakan di kolam renang villa โ beberapa teman cowok nyemplung begitu saja, dan Penulis akhirnya ikut-ikutan juga. Setelah bilas dan ganti baju, sarapan pagi itu terasa pantas disebut riuh: omelette mie dan pecel, ditambah nasi dan pecel lagi karena porsi pertama belum cukup. Sebelum benar-benar berangkat, rombongan masih sempat nyanyi-nyanyi santai โ dari lagu Sunda "Barakatak - Buka-bukaan" sampai beberapa lagu dangdut, cara yang pas untuk menutup pagi sebelum packing dan berangkat ke tujuan utama hari itu.
Masuk Gerbang Taman Langit Gunung Banyak
Perjalanan ke Gunung Banyak sempat melewati jalan yang kondisinya tidak terlalu mulus, tapi begitu gerbangnya kelihatan, rasa penasaran langsung mengalahkan rasa pegal di jalan. Jam 10.58, rombongan resmi masuk gerbang dengan biaya masuk waktu itu sekitar Rp25.000. Setelah parkir motor, rombongan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah lebih dulu sampai di sana.
Area utama yang dituju adalah Taman Langit โ bagian dari kawasan Gunung Banyak yang dirancang sebagai spot untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Begitu masuk, rombongan sempat singgah di semacam rumah singgah di area puncak, lalu lanjut berfoto-foto di ayunan yang jadi salah satu spot favorit di sana. Beberapa teman lain malah tertarik belok ke bagian rumah kayu yang letaknya tidak jauh dari situ. Salah satu teman sempat menunjukkan bahwa dari titik tertentu di Taman Langit, terlihat juga sebuah fasilitas onsen โ harga masuknya, menurut informasi yang didengar waktu itu, kurang lebih setara dengan biaya menginap semalam di sana.
Menjelang siang, rombongan sempat salat zuhur dan ashar dengan cara dijamak di area tersebut, sebelum akhirnya duduk sebentar untuk makan dan minum ringan di salah satu warung sekitar lokasi. Salah satu momen kecil yang masih Penulis ingat: salah satu teman di rombongan sempat mengira Penulis orang Malang asli โ entah karena sudah terlalu sering bolak-balik ke kota ini atau karena sudah mulai hafal jalan-jalannya.
Turun Gunung, Oleh-Oleh Kedua, dan Pulang Naik Kereta
Turun dari Taman Langit, rombongan sempat lewat lagi di depan onsen yang tadi terlihat dari atas โ ukurannya memang cukup besar kalau dilihat langsung dari jalan. Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan Batu, Penulis mampir dulu ke gerai Malang Strudel di Batu dan beli satu kotak rasa cokelat kacang seharga Rp65.000 โ pilihan rasa yang berbeda dari strudel keju yang Penulis beli di trip Maret sebelumnya.
Setelah mampir sebentar ke ATM di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang, rombongan menuju Stasiun Malang Kota Baru. Sambil mengantre tiket, Penulis masih sempat dititipi uang untuk membeli satu kotak Malang Strudel lagi โ kali ini rasa keju, seharga Rp81.000, untuk dititipkan ke teman yang tidak ikut trip. Angka itu ternyata persis sama dengan harga strudel keju yang Penulis beli di trip Maret, beberapa bulan sebelumnya โ kebetulan kecil yang baru Penulis sadari saat menulis ulang catatan ini.
Kereta berangkat dari Stasiun Kota Baru sekitar jam 16.01. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda dari trip-trip sebelumnya yang biasanya penuh cerita soal gerbong dingin dan sempit โ kali ini lebih santai, walau tetap panjang semalaman penuh. Menjelang magrib, Penulis sempat makan nasi goreng seharga Rp33.000 di dalam kereta, cukup untuk mengisi perut sebelum kereta terus melaju melewati kota-kota yang sama seperti trip-trip sebelumnya: Blitar, Tulungagung, Kediri, Madiun, Solo Balapan, sampai akhirnya transit di Stasiun Tugu Yogyakarta menjelang tengah malam.
Yang Perlu Mamangreviewers Tahu
Kalau Mamangreviewers berencana ke Taman Langit di kawasan Gunung Banyak, siapkan waktu khusus untuk area ayunan dan rumah kayunya โ dua spot ini yang paling ramai dipakai foto-foto. Ada juga fasilitas onsen di kawasan yang sama kalau tertarik mencoba sesuatu yang berbeda, tapi siap-siap harganya setara biaya menginap semalam di sana. Semua harga di artikel ini masih harga tahun 2018, jadi sebaiknya cek ulang dulu sebelum berangkat karena kemungkinan sudah naik.
Kalau menginap di villa kawasan Batu yang kebetulan ada kolam renangnya, ada baiknya bawa baju ganti ekstra โ kejadian nyemplung dadakan seperti yang Penulis alami ini cukup sering terjadi kalau sedang ramai-ramai dengan teman. Satu lagi: jangan terlalu mengandalkan jam buka warung yang tertulis di Google Maps, terutama untuk tempat makan kecil seperti Hot Cui Mie โ kadang masih tutup meski sudah "seharusnya" buka.
Kesimpulan
Trip September 2018 ini akhirnya benar-benar membuktikan apa yang sudah dijanjikan sebelumnya: salah satu kunjungan paling menyenangkan yang pernah Penulis alami ke Malang. Sunrise dari villa dan gerbang Taman Langit jadi dua momen yang paling nempel di ingatan, ditambah keriuhan kecil di sepanjang perjalanan โ dari mie yang dua kali gagal ditemui sampai kebetulan harga strudel yang sama persis dengan trip sebelumnya. Museum Angkut yang cuma sempat dilihat dari luar pun jadi semacam PR kecil yang masih ingin Penulis selesaikan suatu hari nanti. Cerita berikutnya menyusul di kunjungan 2019, Mamangreviewers โ dan masih ada beberapa tahun lagi sebelum sampai ke kunjungan paling baru di 2023.