2017: Muter di Museum Angkut Batu, Pulangnya Kena Kereta Ekonomi 9 Jam yang Bikin Kapok
Trip kedua Penulis ke Malang akhirnya punya waktu untuk benar-benar melihat kotanya lewat Museum Angkut di Batu, tapi harus dibayar dengan perjalanan kereta ekonomi pulang yang dingin, sempit, dan lapar selama semalaman penuh.

Kalau kunjungan pertama Penulis ke Malang tahun 2015 isinya cuma kerja dan pulang tanpa sempat lihat apa-apa, di tahun 2017 akhirnya ada sedikit ruang untuk benar-benar mengenal kotanya. Penulis diundang lagi untuk membantu sebuah acara komunitas hobi bersama rombongan teman-teman, kali ini skalanya terasa lebih besar dari sebelumnya. Bedanya, waktu itu Penulis tidak sadar kalau "sedikit ruang untuk jalan-jalan" ini bakal dibayar mahal lewat perjalanan kereta ekonomi pulang yang sampai sekarang masih Penulis ingat sebagai salah satu yang paling melelahkan.
Berangkat Lewat Jogja, Naik Mutiara Selatan
Berbeda dari 2015 yang naik Malabar, trip Maret 2017 ini Penulis dan rombongan naik Kereta Mutiara Selatan dari Bandung, yang rutenya sempat transit cukup lama di Stasiun Tugu Jogjakarta tengah malam. Penulis ingat betul dinginnya menunggu di peron Tugu dini hari, sebelum kereta lanjut lagi melewati Solo Balapan, Kertosono, Surabaya Gubeng, sampai akhirnya masuk wilayah Malang lewat Lawang. Total perjalanan dari Bandung sampai turun di stasiun baru memakan waktu lebih dari satu hari penuh kalau dihitung dari keberangkatan sore sebelumnya.
Begitu tiba, rombongan tidak langsung ke penginapan — sempat mampir dulu ke rumah salah satu panitia acara karena ada anggota tim yang kurang enak badan, baru kemudian menuju Putri Utari Guest House di kawasan Mangkaling, tempat rombongan menginap selama acara berlangsung. Penginapannya sederhana, tipe guest house dengan kamar-kamar kecil, cukup untuk istirahat di sela jadwal yang padat.

Museum Angkut: Dari Kabin Pesawat sampai Batmobile
Momen paling berkesan dari trip ini justru datang di sela-sela jadwal acara: kunjungan ke Museum Angkut di kawasan Batu. Museum ini bukan museum biasa — begitu masuk, pengunjung diajak muter dari zona kabin pesawat lengkap dengan replika badan pesawatnya, lanjut ke zona bertema Pecinan dengan dekorasi ala kota Tiongkok lama, lalu masuk ke garasi berisi koleksi mobil-mobil klasik yang terawat rapi.
Dari situ, alurnya berlanjut ke zona bertema Las Vegas dengan lampu-lampu warna-warni khas kasino, menyambung ke zona bergaya Birmingham, sampai akhirnya ketemu koleksi kendaraan unik seperti Hummer Limo dan replika Batmobile yang jadi spot foto favorit rombongan. Untuk masuk, harga tiketnya waktu itu Rp100.000 per orang, ditambah Rp50.000 lagi kalau membawa kamera sendiri — angka yang menurut Penulis tetap sepadan mengingat luas dan detail tiap zonanya.


Sayangnya, karena waktu terbatas dan harus kembali mengejar jadwal acara, Penulis tidak sempat menjelajah semua sudut museum ini sampai tuntas. Satu alasan lagi untuk balik ke Malang, kalau boleh jujur.
Icip-Icip di Sela Jadwal Acara
Soal makan, trip 2017 ini justru punya lebih banyak variasi dibanding 2015. Hari pertama begitu sampai, rombongan makan siang di Waroeng SS (Spesial Sambal) yang lokasinya tak jauh dari Putri Utari — restoran cabang yang memang terkenal dengan puluhan varian sambal. Penulis sendiri pesan sambal bawang tomat yang ternyata cukup nampol pedasnya, sampai bikin beberapa anggota rombongan yang belum terbiasa langsung kepedasan.
Malam kedua, di sela jadwal acara utama, Penulis sempat menyeberang ke Sengkaling Kuliner naik motor bersama beberapa teman — kawasan pujasera yang letaknya tak jauh dari Mangkaling dan jadi langganan warga sekitar untuk makan malam. Penulis pesan nasi goreng jumbo pedas di sana: porsinya besar, pedasnya lumayan nendang, pas buat mengisi tenaga setelah seharian berkegiatan.
Hari ketiga, sepulang dari Museum Angkut, rombongan mampir ke Otsukare Cafe, kafe bertema Jepang yang juga masih di kawasan Mangkaling, untuk sekadar ngobrol dan minum sambil menunggu jadwal berikutnya — suasananya santai, cocok buat istirahat sejenak setelah seharian jalan. Ada juga momen antre beli baso di pinggir jalan dekat penginapan malam itu, jajanan sederhana yang jadi penutup hari yang cukup padat.
Yang paling Penulis ingat justru soal makan di dalam kereta. Di perjalanan berangkat, menjelang tengah malam, rombongan pesan makanan lewat gerbong restorasi: kombo nasi goreng dan baso dengan total sekitar Rp46.000 untuk beberapa orang, sementara satu porsi baso kuah terpisah dibanderol sekitar Rp20.000. Bukan makanan mewah, tapi jadi penyelamat perut di tengah perjalanan panjang yang dingin.
Perjalanan Pulang yang Bikin Kapok
Kalau soal Museum Angkut dan kuliner tadi jadi bagian menyenangkan, perjalanan pulangnya adalah cerita yang berbeda. Kereta berangkat malam hari, dan begitu masuk dini hari, gerbong ekonomi terasa dingin, sempit, dan penumpang mulai kelaparan karena jadwal makan yang tidak menentu. Catatan lama Penulis soal momen ini singkat tapi jujur: dingin, sempit, lapar, dan haus — dengan sisa perjalanan yang masih panjang, sekitar sembilan jam lagi sebelum benar-benar sampai rumah.
Sempat ada insiden kereta berhenti mendadak di tengah jalan karena alasan keamanan, yang tentu saja bikin waktu tempuh molor lebih jauh dari jadwal semula. Begitu akhirnya tiba di Bandung, rombongan langsung berpencar pulang masing-masing, kelelahan tapi juga lega perjalanan panjang itu akhirnya selesai.
Yang Perlu Mamangreviewers Tahu
Kalau Mamangreviewers berencana naik kereta ekonomi jarak jauh Bandung–Malang seperti Penulis waktu itu, siapkan mental untuk perjalanan yang benar-benar menguras tenaga, terutama di jam-jam dini hari. Bawa jaket tebal, bantal leher, dan cukup bekal makanan sendiri — jangan cuma mengandalkan gerbong restorasi, karena harga dan ketersediaannya bisa naik-turun tergantung jadwal. Kalau memungkinkan, kelas yang lebih tinggi dari ekonomi jelas akan jauh lebih manusiawi untuk perjalanan semalaman seperti ini.
Kesimpulan
Trip 2017 ini jadi titik balik kecil buat Penulis: mulai ada waktu untuk benar-benar menikmati Malang, bukan cuma numpang kerja seperti 2015. Museum Angkut jadi bukti kalau kota ini punya lebih banyak untuk ditawarkan dari yang Penulis kira, meski harus dibayar dengan perjalanan pulang yang jadi salah satu pengalaman kereta paling melelahkan yang pernah Penulis alami. Untungnya, kunjungan-kunjungan berikutnya di tahun 2018 dan seterusnya bakal jauh lebih ramah — ceritanya menyusul di artikel berikutnya, Mamangreviewers.