Travelβ˜…β˜…β˜…β˜†β˜† 3/5

Kali Pertama ke Malang (2015): Semalaman di Kereta Malabar Demi Jaga Stan, Bukan Liburan

Penulis coba runut ulang catatan kunjungan paling awal ke Malang β€” bukan liburan, tapi jadi kru acara komunitas hobi, naik kereta malam yang dingin, dan baru sempat lihat kotanya sekilas.

HarbhumΒ·Β·5 min read
Kali Pertama ke Malang (2015): Semalaman di Kereta Malabar Demi Jaga Stan, Bukan Liburan

Ada beberapa kunjungan ke suatu kota yang baru terasa berarti setelah bertahun-tahun berlalu, dan Malang adalah salah satunya buat Penulis. Sebelas tahun lalu, tepatnya November 2015, Penulis pertama kali menginjakkan kaki di kota ini β€” bukan untuk jalan-jalan, tapi karena diajak membantu sebuah acara komunitas hobi sebagai kru: jaga stan sekaligus dokumentasi foto. Baru sekarang, sambil merunut ulang catatan dan ingatan lama, Penulis sadar perjalanan yang waktu itu terasa biasa saja ternyata jadi pembuka dari hubungan panjang Penulis dengan kota ini.

Berangkat Naik Kereta Malabar

Perjalanan dimulai Sabtu sore, 31 Oktober 2015, dari Stasiun Bandung dengan Kereta Api Malabar β€” salah satu kereta malam rute Bandung–Malang yang waktu itu jadi andalan Penulis dan teman-teman satu rombongan. Berangkat sore, sampainya baru keesokan paginya. Penulis ingat betul kereta ini melewati banyak stasiun kecil sepanjang malam, dan salah satu catatan lama Penulis cuma bertuliskan singkat: "dingin, rek!" β€” cukup mewakili bagaimana rasanya duduk di gerbong ekonomi tengah malam sambil menembus Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

Yang menarik dari perjalanan model begini, kereta jauh dari nyaman kalau dibandingkan standar sekarang, tapi justru momen-momen kecilnya yang nempel di ingatan: teman serombongan yang ketiduran di kursi masing-masing, obrolan random tengah malam buat menahan kantuk, dan sensasi menyeberang setengah pulau Jawa dalam satu tarikan napas panjang.

Sampai di Malang Lewat Dua Stasiun

Minggu pagi, 1 November 2015, kereta berhenti sebentar di Stasiun Malang Kota Lama sebelum akhirnya benar-benar berhenti di Stasiun Malang Kota Baru sekitar sembilan menit kemudian. Buat Mamangreviewers yang belum tahu, Malang memang punya dua stasiun aktif di jalur yang berdekatan, dan kereta jarak jauh seperti Malabar biasanya transit sebentar di Kota Lama sebelum terminal akhirnya di Kota Baru. Detail kecil ini yang justru Penulis ingat jelas, mungkin karena jadi penanda pertama "oh, ini dia Malang" setelah semalaman di perjalanan.

Begitu turun, tidak ada waktu untuk berkeliling dulu. Penulis dan rombongan langsung menuju lokasi acara untuk mulai bertugas.

Bukan Liburan, tapi Kerja Lapangan

Selama beberapa hari di Malang, sebagian besar waktu Penulis habis untuk menjaga stan dan mengambil dokumentasi foto acara. Ini bukan trip santai β€” lebih ke kerja lapangan yang kebetulan lokasinya di luar kota. Sela-sela waktu yang tersisa dipakai untuk menginap dan menyempatkan beli oleh-oleh sebelum pulang. Tidak ada waktu khusus untuk berkeliling kota atau mampir ke tempat wisata β€” jalan-jalan di Malangnya sendiri, kalau boleh jujur, hampir tidak ada.

Satu tempat makan yang masih Penulis ingat jelas sampai sekarang: Bakso Cak Min di Jl. Batubara No.43, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang β€” warungnya masih terdaftar di Google Maps sampai sekarang, jadi kemungkinan besar masih buka. Baksonya disajikan dalam kuah bening yang gurih, isian baksonya cukup besar, ditambah satu potong pangsit basah yang lembut sebagai pelengkap.

Selain bakso, Penulis juga sempat coba mie pangsit di tempat yang sama β€” mie kuning disiram bumbu bawang dan sambal di tengah, ditambah pangsit goreng yang renyah dan irisan timun segar di pinggir piring. Waktu itu, tahun 2015, satu porsi mie pangsit ini cuma Rp6.000 β€” harga sebelas tahun lalu yang jelas sudah jauh berubah sekarang, tapi jadi pengingat betapa terjangkaunya jajan di Malang waktu itu.

Ini justru jadi pola yang akan berulang di beberapa kunjungan awal Penulis ke Malang: datang karena diajak komunitas, sibuk dengan tugas selama di sana, dan baru benar-benar sempat menikmati kotanya di kunjungan-kunjungan berikutnya.

Pulang Naik Malabar Lagi, Catatan per Stasiun

Perjalanan pulang tanggal 3 November 2015 juga naik Malabar, dan kebetulan catatan Penulis waktu itu cukup rapi mencatat setiap kali kereta berhenti β€” dari Kutoarjo, Wonosari, Karanganyar, Gombong, sampai Banjar yang jaraknya sekitar 111 km dari Bandung, lalu masuk wilayah Nagreg dan Cicalengka sebelum akhirnya tiba di Kiaracondong dan Stasiun Bandung. Total perjalanan pulang-pergi ini memakan waktu semalaman penuh, ditambah suasana gerbong yang dingin dan riuh oleh penumpang lain yang juga separuh mengantuk.

Kalau dipikir-pikir sekarang, catatan sepanjang perjalanan seperti ini yang bikin Penulis bisa menulis ulang detail-detail kecil bertahun-tahun kemudian β€” sesuatu yang mungkin patut dicontoh Mamangreviewers yang suka jalan jauh naik kereta: catat saja hal-hal kecil selama perjalanan, karena nanti kegunaannya baru terasa jauh di kemudian hari.

Yang Perlu Mamangreviewers Tahu

Kalau Mamangreviewers berharap artikel ini bercerita soal tempat wisata atau kuliner khas Malang, mohon maaf, trip pertama ini memang tidak menyediakan itu. Ini murni cerita soal keberangkatan pertama yang penuh keterbatasan β€” waktu sempit, fokus kerja, dan kota yang cuma sempat dilihat sekilas dari balik jendela kereta dan jalan menuju venue acara. Bukan berarti tidak berkesan, hanya saja kesannya lebih ke pengalaman naik kereta malam dan kerja bareng teman-teman, bukan eksplorasi kota.

Untungnya, ini baru permulaan. Kunjungan-kunjungan Penulis berikutnya ke Malang β€” mulai dari 2017 sampai 2023 β€” pelan-pelan mulai memberi ruang lebih besar untuk benar-benar mengenal kotanya: dari museum, gunung, sampai kuliner yang bikin kangen. Cerita itu akan menyusul di artikel-artikel berikutnya.

Kesimpulan

Trip 2015 ini mungkin bukan cerita jalan-jalan paling seru, tapi jadi fondasi kenapa Penulis terus balik lagi ke Malang bertahun-tahun sesudahnya. Kereta malam yang dingin, dua stasiun yang berurutan, dan kerja lapangan bersama teman-teman β€” kombinasi sederhana yang ternyata membekas cukup lama untuk akhirnya ditulis ulang sekarang, sebelas tahun kemudian.

Mamangreviewers, kalau kalian juga punya kota yang awalnya "cuma numpang lewat" tapi akhirnya jadi langganan, cerita di kolom komentar ya β€” siapa tahu jadi bahan artikel Mamangreview berikutnya juga.