Games & Toys★★★★★ 5/5

Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes — Warisan Sang Maestro yang Menyentuh Hati

Penulis menyelesaikan Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes beserta tiga DLC tambahan dan menilainya sempurna. Ini bukan sekadar game — ini warisan seorang maestro yang tidak sempat melihat karyanya diterima dunia.

Harbhum··7 min read
Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes — Warisan Sang Maestro yang Menyentuh Hati

Ada game yang kamu mainkan, selesaikan, lalu lanjut ke judul berikutnya. Tapi ada juga game yang membekas lama setelah layar padam. Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes termasuk yang kedua — dan bagi penulis, ini adalah salah satu pengalaman bermain terbaik dalam bertahun-tahun.

Sebelum Memulai: Kenalan Dulu dengan Eiyuden Chronicle: Rising

Penulis tidak langsung terjun ke Hundred Heroes. Sebelumnya, penulis lebih dulu menamatkan Eiyuden Chronicle: Rising — game prekuel yang dirilis Mei 2022 dengan gameplay side-scrolling action RPG.

Di Rising, kita mengendalikan tiga karakter utama: CJ, Garu, dan Isha yang berpetualang di kota New Nevea. Eksplorasinya terasa seperti Valkyrie Profile, sementara pertarungannya mengingatkan pada aksi Rockman X. Yang menarik adalah mekanisme link attack — tiga karakter bisa menyambung serangan secara berantai.

Penulis menilai Rising sebagai gerbang yang bagus untuk memahami world building Eiyuden: sistem Rune Lens, Runbarrows, dan hubungan antar negara yang nanti menjadi fondasi cerita di Hundred Heroes. Setelah Rising, penulis langsung melanjutkan ke game utama — dan ini keputusan yang tidak penulis sesali.

Tentang Game Ini dan Kisah di Baliknya

Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes dirilis pada 23 April 2024, dikembangkan oleh Rabbit & Bear Studios. Game ini lahir dari Kickstarter yang diluncurkan tahun 2020 — dan sukses besar, mengumpulkan lebih dari US$4,5 juta dari ribuan pendukung. Sebuah rekor untuk game JRPG di platform tersebut.

Di balik angka itu ada satu nama: Yoshitaka Murayama, pencipta seri Suikoden yang legendaris. Dialah otak di balik Eiyuden Chronicle — sebuah mimpi untuk melanjutkan warisan JRPG klasik yang selama ini ia tinggalkan sejak pergi dari Konami.

Yang membuat perjalanan ini begitu emosional: Murayama meninggal dunia pada awal 2024, tepat sebelum game ini dirilis ke publik. Ia tidak sempat menyaksikan sendiri bagaimana dunia menerima karya terakhirnya.

Penulis mengenal game ini sekitar Desember 2024 dalam kondisi diskon di Steam, dan memulai perjalanan pada 26 Maret 2025. Tepat sembilan hari kemudian, pada 4 April 2025, penulis menamatkannya — termasuk tiga chapter DLC tambahan yang mengembangkan kisah karakter Marcus, Seign, dan Marisa.

Visual: Perpaduan yang Berani dan Berhasil

Satu hal yang langsung menarik perhatian saat pertama membuka game ini adalah visualnya. Eiyuden Chronicle menggabungkan dua pendekatan yang kontras: latar belakang dan lingkungan yang dirender dalam format 2.5D dengan efek cel-shading yang indah, sementara karakter-karakternya tampil dalam gaya pixel art klasik.

Bagi sebagian orang, campuran ini mungkin terasa janggal. Tapi justru di situlah keindahannya — ada nuansa nostalgia dari sprite pixel yang bergerak di atas dunia yang terasa hidup dan dalam. Opening gamenya saja sudah cukup untuk membuat penulis yakin: ini game yang dibuat dengan cinta.

Pergerakan kamera yang mengikuti karakter saat berpindah dari satu titik ke titik lain pun terasa familiar — mengingatkan penulis pada kamera dinamis di Suikoden 3.

Cerita: Tiga Karakter Utama, Satu Dunia yang Kaya

Cerita Eiyuden Chronicle berpusat pada Nowa, seorang pemuda penjaga yang naif tapi berhati teguh. Bersamanya ada Seign, perwira muda Kekaisaran Galdean yang lebih memilih mengikuti nuraninya daripada perintah yang tidak benar. Dan Marisa, petualang perempuan yang misterius dengan kekuatan yang berbeda.

Ketiganya bertemu, berpisah, dan akhirnya bersatu dalam perlawanan terhadap ancaman yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan. Ceritanya penulis jaga dari spoiler di sini, tapi ada momen-momen yang membuat penulis harus berhenti sejenak sebelum melanjutkan permainan.

Satu hal yang penulis perhatikan — banyaknya angka tiga yang tersembunyi di seluruh game ini. Tiga karakter utama, trio CJ-Garu-Isha dari Rising yang bisa direkrut, tiga The Great Nations, tiga ronde Beigoma, maksimal tiga pasukan per kotak di army battle, dan seterusnya. Bahkan total karakter yang bisa direkrut adalah 120 — kelipatan tiga. Ini bukan kebetulan. Ini desain yang penuh perhatian.

Villainnya pun tidak main-main. Penulis cukup bilang: karakter antagonis di sini dibangun dengan kedalaman yang makin terasa saat kita menyelami lebih jauh pikirannya — aneh, gelap, dan konsisten.

Gameplay: Tiga Jenis Pertarungan, Satu Pengalaman Utuh

Eiyuden Chronicle punya tiga sistem pertarungan yang berbeda, dan ketiganya terasa punya identitas sendiri.

Pertarungan Biasa (Turn-Based) menggunakan enam karakter dalam formasi. Pilihan aksi terdiri dari Attack, Rune Lens (sihir dan skill dengan elemen atau SP), pilihan unik per karakter (dodge untuk Lian, shield untuk mage, shield & counter untuk Reyna), Item, dan Hero Combo. Gimmick di beberapa battle — seperti harus menyerang peti harta atau berlindung di balik reruntuhan saat melawan bos — menambah variasi yang menyenangkan. Musiknya, yang digarap oleh Motoi Sakuraba, membuat penulis rela berlama-lama dalam battle bahkan ketika situasinya tidak menguntungkan.

Army Battle tampil seperti catur sembilan kotak, di mana setiap kotak bisa diisi maksimal tiga pasukan. Ada pilihan Move dan Legion Command — mirip skill pasukan di game JRPG lain. Karakter yang sudah direkrut bisa membantu dalam battle ini, dan ada meter Rage serta Morale yang perlu diperhatikan.

Duel menjadi yang paling dramatis. Hanya tiga pilihan: Attack, Counter, dan Break (aktif saat Tension cukup). Tapi di balik kesederhanaannya, duel menyajikan dialog dan gerakan yang sangat sinematik. Ada beberapa duel yang tidak bisa dimenangkan — dan harus dihadapi hanya untuk bertahan. Ini keputusan desain yang berani, dan berhasil.

Mini-Game: Lebih dari Sekadar Pengisi Waktu

Salah satu hal yang membuat Eiyuden Chronicle terasa penuh adalah banyaknya mini-game — dan semuanya punya tujuan nyata, termasuk untuk merekrut karakter.

Fishing mengharuskan kita menekan tombol saat tanda seru muncul — sederhana, tapi perlu fishing rod dari Huang terlebih dahulu. Beigoma adalah pertarungan gasing — tidak cukup hanya skill, tapi butuh gasing yang tepat untuk menang. Card Battle menggunakan sistem deck dan akumulasi poin. Dan yang paling menghibur: Cooking Battle, pertarungan memasak melawan Black Dragon Syndicate yang dipenuhi komentar lucu dengan voice acting yang pas — dan ini diperlukan untuk merekrut karakter Celia.

Ada juga teater di dalam kastil — konsep yang mengingatkan Suikoden 3, tapi lebih hidup karena semua dialog bersuara. Di sini kita bisa memilih karakter untuk memainkan ulang kisah Eiyuden Chronicle: Rising dengan sentuhan yang lebih ringan dan jenaka.

Kastil dan Pengembangan Kota

Seperti tradisi JRPG sejenis, penulis mendapatkan kastil sebagai markas perlawanan — meski tidak bisa memberi nama sendiri, hanya memilih dari daftar yang tersedia. Di dalamnya ada sistem town development yang membutuhkan bahan-bahan dari eksplorasi, mining, harvesting, atau melalui Mission Guild — di mana kita bisa mengirim karakter yang sudah direkrut untuk mendapatkan material secara otomatis.

Setiap karakter yang bergabung membawa warna berbeda ke kastil. Dan inilah inti dari keseluruhan pengalaman Eiyuden Chronicle: membangun komunitas dari seratus dua puluh nyawa yang berbeda-beda.

DLC: Tiga Chapter yang Melengkapi

Penulis juga menamatkan tiga chapter DLC tambahan — Chapter of Marcus, Chapter of Seign, dan Chapter of Marisa. Ketiganya memperluas cerita karakter-karakter yang mungkin terasa kurang terjawab di game utama, dan memberikan konteks tambahan yang cukup memuaskan. DLC-nya bukan sekadar konten formalitas, tapi benar-benar melengkapi narasi utama.

Kekurangan yang Perlu Dicatat

Tidak ada game yang sempurna, dan penulis ingin jujur tentang kekurangannya.

Sistem UI tidak selalu intuitif — tidak ada quest log yang jelas, sehingga beberapa misi rekrutmen karakter terasa membingungkan. Beberapa elemen combat pun minim penjelasan, terutama untuk gimmick bos tertentu yang bisa membuat frustrasi saat pertama bertemu.

Ada juga satu mekanisme yang menurut penulis kurang perlu — yaitu character trap di salah satu chapter. Memang ada kaitannya dengan cerita, tapi rasanya bisa digantikan dengan pendekatan yang lebih elegan.

Dan di New Game Plus, ketika karakter dibawa dengan level tinggi dari save sebelumnya, ada keanehan di mana beberapa karakter bisa berada di lokasi yang sama sekaligus — terkesan seperti bug kecil yang mengganggu imersi.

Kesimpulan: 10 dari 10

Penulis tidak memberikan nilai ini dengan mudah. Tapi setelah menamatkan game utama dan ketiga DLC-nya, setelah mendengar setiap lagu Motoi Sakuraba, setelah merekrut seratus dua puluh karakter dan menyaksikan kisah mereka berkembang — tidak ada angka lain yang terasa lebih tepat.

Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes adalah game yang dibuat oleh seseorang yang tahu betul apa yang dicintainya, dan menuangkan semua itu ke dalamnya. Kekurangannya ada, tapi tidak mampu menggeser apa yang game ini berhasil lakukan: membuat penulis merasa bahwa pengalaman JRPG terbaik masih bisa hadir di era ini.

Untuk para penggemar JRPG — ini bukan pilihan, ini keharusan.

Dan untuk Yoshitaka Murayama: terima kasih atas perjalanannya.

Rating: 10/10


Dimainkan di PC via Steam. Termasuk Eiyuden Chronicle: Rising dan tiga DLC (Chapter of Marcus, Chapter of Seign, Chapter of Marisa). Game utama diselesaikan antara 26 Maret – 4 April 2025.